Kalau saham membuat Anda menjadi pemilik perusahaan, obligasi membuat Anda menjadi pemberi pinjamannya. Posisi itu terdengar kurang menarik — Anda tidak berbagi kemakmuran saat perusahaan jaya, tidak ikut menikmati pertumbuhan. Tetapi sebagai imbalan, Anda menerima janji tertulis, terjadwal, dan didahulukan: bunga (kupon) tetap mengalir sesuai jadwal, dan pokok pinjaman kembali pada tanggal yang telah disepakati. Dalam portofolio yang sehat, saham adalah mesinnya; obligasi adalah bantalan yang menjaga perjalanan tetap stabil saat guncangan datang.
Bab ini menjelaskan obligasi dari A sampai Z — apa itu, jenis-jenisnya, karakteristik penting, cara menghitung imbal hasil, risiko-risiko yang melekat, pasar perdagangannya, serta varian syariahnya. Di akhir bab Anda punya pemahaman cukup untuk menilai apakah sebuah penawaran obligasi (termasuk Obligasi Ritel Negara / ORI, Sukuk Ritel / SR, Savings Bond Ritel / SBR) layak masuk dalam portofolio Anda.
Jenis obligasi berdasarkan penerbit
Yang menerbitkan obligasi bukan hanya perusahaan. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga supranasional juga menerbitkan. Tiga kelompok utama:
Diterbitkan oleh perusahaan — baik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun badan usaha swasta. Dipakai untuk membiayai ekspansi, refinancing utang, atau proyek besar yang tidak cukup didanai oleh bank.
Diterbitkan oleh pemerintah pusat. Di Indonesia dikenal dalam bentuk SUN (Surat Utang Negara), ORI (Obligasi Ritel), SR (Sukuk Ritel), dan SBR (Savings Bond Ritel).
Diterbitkan oleh pemerintah daerah untuk membiayai proyek yang berkaitan dengan kepentingan publik (public utility) — jalan, rumah sakit, infrastruktur kota. Belum banyak di Indonesia; lebih umum di AS dan Eropa.
Jenis obligasi berdasarkan sistem pembayaran bunga
Cara emiten membayar bunga ke pemegang obligasi bervariasi. Empat skema yang umum:
- Zero Coupon Bonds
Bunga & pokok dibayarkan sekaligus saat jatuh tempo. Tidak ada kupon periodik; obligasi dibeli dengan diskon dan diredem pada nilai nominal di akhir. Keuntungan investor = selisih antara harga beli dan nilai nominal.
- Coupon Bonds
Dapat diuangkan (dibayarkan) secara periodik sesuai ketentuan penerbit — biasanya setiap 3 atau 6 bulan. Ini bentuk paling umum.
- Fixed Coupon Bonds
Tingkat kupon bunga telah ditetapkan sebelum masa penawaran di pasar perdana dan akan dibayarkan secara periodik dengan jumlah yang sama sampai jatuh tempo. Cocok untuk investor yang mencari kepastian arus kas.
- Floating Coupon Bonds
Tingkat kupon bunga ditentukan ulang secara berkala, berdasarkan suatu acuan tertentu — misalnya average time deposit (rata-rata tingkat suku bunga deposito dari bank pemerintah dan swasta) atau BI Rate. Kupon naik saat suku bunga pasar naik, dan sebaliknya. Cocok sebagai hedge terhadap kenaikan suku bunga.
Jenis obligasi berdasarkan hak penukaran/opsi
Beberapa obligasi memiliki embedded option — fitur tambahan yang memberikan hak khusus bagi salah satu pihak:
Memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk mengkonversi obligasi ke saham milik penerbitnya, dengan rasio konversi yang telah disepakati.
Memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk menukar obligasi ke dalam sejumlah saham perusahaan afiliasi penerbitnya — bukan saham penerbit itu sendiri.
Memberikan hak kepada emiten untuk membeli kembali (me-call) obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut. Biasanya dipakai emiten saat suku bunga turun agar bisa refinancing lebih murah.
Memberikan hak kepada investor yang mengharuskan emiten membeli kembali obligasi pada harga tertentu selama umur obligasi tersebut. Ini kebalikan dari callable — opsi di sisi investor.
Jenis obligasi berdasarkan jaminan/kolateral
Tingkat jaminan menentukan posisi kreditor saat default:
- Secured Bonds
Dijamin dengan kekayaan tertentu dari penerbitnya atau jaminan dari pihak ketiga. Saat default, pemegang obligasi berhak atas aset yang dijaminkan.
- Guaranteed Bonds
Pelunasan bunga dan pokoknya dijamin dengan penanggungan pihak ketiga — umumnya bank besar atau entitas pemerintah.
- Mortgage Bonds
Pelunasan bunga dan pokoknya dijamin dengan agunan hipotik atas properti atau aset tetap. Sangat umum di obligasi properti dan infrastruktur.
- Unsecured Bonds
Tidak dijamin dengan kekayaan tertentu, tetapi dijamin dengan kekayaan penerbitnya secara umum. Pemegangnya bersaing dengan kreditor umum lainnya saat likuidasi. Sebagai kompensasi, kuponnya biasanya lebih tinggi.
Jenis obligasi berdasarkan nominal
Lazim diperjualbelikan dalam satu nominal, yaitu Rp 1 miliar per satu lot. Target investor: institusi, asuransi, dana pensiun. Tidak cocok untuk ritel.
Lazim diperjualbelikan dalam satuan nilai nominal yang kecil — baik corporate bonds (surat hutang perusahaan) maupun government bonds (surat hutang pemerintah). Di Indonesia, ORI dan Sukuk Ritel bisa dibeli mulai dari Rp 1 juta (minimum per serinya bervariasi).
Jenis obligasi berdasarkan penghitungan imbal hasil
Diperhitungkan dengan menggunakan sistem kupon bunga. Kupon adalah bunga tetap atau mengambang yang dibayar berkala.
Diperhitungkan dengan menggunakan sistem bagi hasil, disebut juga sebagai sukuk. Berdasarkan AAOIFI's Sharia Standard No. 17 mengenai Investasi Sukuk, terdiri dari berbagai jenis sertifikat:
- Sertifikat kepemilikan dalam aset yang disewakan
- Sertifikat kepemilikan atas manfaat
- Sertifikat salam
- Sertifikat istishna
- Sertifikat murabahah
- Sertifikat musyarakah
- Sertifikat muzara'a
- Sertifikat musaqa
- Sertifikat mugharasa
Karakteristik utama obligasi
Nilai pokok dari suatu obligasi yang akan diterima oleh pemegang obligasi pada saat obligasi tersebut jatuh tempo. Untuk ORI, umumnya Rp 1 juta per unit. Untuk obligasi korporasi konvensional, umumnya Rp 1 miliar per lot.
Nilai bunga yang diterima pemegang obligasi secara berkala — kelaziman pembayaran kupon obligasi adalah setiap 3 atau 6 bulan. Kupon obligasi dinyatakan dalam persentase tahunan. Contoh: kupon 8% per tahun atas nominal Rp 1 juta = Rp 80.000 per tahun, dibayar Rp 40.000 per 6 bulan bila periode kupon semester.
Tanggal di mana pemegang obligasi akan mendapatkan pembayaran kembali pokok obligasi yang dimilikinya. Periode jatuh tempo obligasi bervariasi mulai dari 1 tahun sampai di atas 5 tahun — bahkan 10, 20, atau 30 tahun untuk obligasi pemerintah jangka panjang.
Pihak yang menerbitkan obligasi. Mengetahui dan mengenal penerbit obligasi merupakan faktor sangat penting dalam investasi Obligasi Ritel. Mengukur risiko gagal bayar (default) — ketidakmampuan membayar kupon dan/atau pokok tepat waktu — dilakukan lewat peringkat obligasi yang dikeluarkan lembaga pemeringkat seperti PEFINDO (PT Pemeringkat Efek Indonesia).
Harga obligasi
Berbeda dengan harga saham yang dinyatakan dalam bentuk mata uang, harga obligasi dinyatakan dalam persentase (%) nilai nominal. Ini konvensi yang membuat perbandingan lintas nominal menjadi mudah. Ada tiga kemungkinan harga pasar dari obligasi yang ditawarkan:
Harga obligasi sama dengan nilai nominal (100%). Contoh: obligasi nominal Rp 100 juta dijual pada harga 100% → 100% × Rp 100 juta = Rp 100 juta.
Harga obligasi lebih besar dari nilai nominal (>100%). Contoh: obligasi nominal Rp 100 juta dijual pada harga 110% → 110% × Rp 100 juta = Rp 110 juta. Terjadi saat kupon obligasi lebih tinggi daripada suku bunga pasar saat ini.
Harga obligasi lebih kecil dari nilai nominal (<100%). Contoh: obligasi nominal Rp 100 juta dijual pada harga 95% → 95% × Rp 100 juta = Rp 95 juta. Terjadi saat kupon obligasi lebih rendah daripada suku bunga pasar saat ini.
Yield: mengukur imbal hasil sesungguhnya
Kupon saja belum bercerita lengkap tentang imbal hasil — karena harga beli Anda bisa di atas atau di bawah par. Untuk menghitung imbal hasil yang sesungguhnya, gunakan konsep yield — imbal hasil atau pendapatan dari investasi yang ditempatkan di obligasi.
Current Yield
Yield yang dihitung berdasarkan jumlah kupon yang diterima selama satu tahun terhadap harga obligasi tersebut.
Current Yield = Jumlah Kupon Tahunan / Harga Sekarang
Contoh: Obligasi PT ABC memberikan kupon 15% per tahun, sedangkan harga obligasi 95% atas nilai nominal Rp 1.000.000, maka:
Current Yield = (1.000.000 × 15%) / (1.000.000 × 95%)
= 150.000 / 950.000
= 15,79%
Yield to Maturity (YTM)
Total tingkat pengembalian atau pendapatan yang akan diperoleh investor apabila memiliki obligasi sampai jatuh tempo — menggabungkan kupon periodik dan selisih antara harga beli dengan nilai nominal di akhir.
Formula pendekatan (approximation):
YTM (APV) = [C + (FV − P) / n] / [(FV + P) / 2]
dengan: C = kupon tahunan, FV = nilai nominal (par), P = harga pasar, n = tahun sampai jatuh tempo.
Contoh: Obligasi dengan par Rp 1.000, jangka waktu 20 tahun, kupon 8% per tahun (= Rp 80), dan harga pasar Rp 900. Maka:
YTM = [80 + (1.000 − 900)/20] / [(1.000 + 900)/2]
= [80 + 5] / 950
= 85 / 950
= ~8,95%
YTM lebih tinggi dari kupon (8%) karena obligasi dibeli di discount.
Faktor-faktor yang memengaruhi YTM
Hubungan antara harga obligasi, kupon, dan yield:
| Obligasi Dijual Pada | Harga (P) vs Par (F) | Hubungan Kupon ↔ YTM |
|---|---|---|
| Par | P = F | Kupon = Current Yield = YTM |
| Discount | P < F | Kupon < Current Yield < YTM |
| Premium | P > F | Kupon > Current Yield > YTM |
Dua faktor tambahan yang memengaruhi sensitivitas YTM:
- Jangka waktu — semakin panjang jangka waktu obligasi, semakin sensitif terhadap perubahan suku bunga.
- Kupon — semakin rendah kupon, semakin sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Yield vs Risk: hubungan mendasar
Yield berbanding terbalik dengan harga — dan berbanding lurus dengan risiko. Makin tinggi risiko yang harus ditanggung investor, makin tinggi kompensasi yield yang diminta pasar. Karenanya, obligasi junk (high-yield) memberi kupon tinggi, sementara obligasi pemerintah negara berkembang memberi kupon rendah.
- Coupon Yield — kupon terhadap nominal
- Current Yield — kupon terhadap harga pasar
- Yield to Maturity (YTM) — total return ke jatuh tempo
- Volatilitas
- Durasi
- Jangka waktu
- Konveksitas
Durasi — ukuran berapa lama (dalam tahun) yang dibutuhkan agar harga obligasi "balik modal" dari arus kas internal (kupon + pokok). Durasi juga jadi ukuran sensitivitas harga terhadap perubahan suku bunga. Semakin besar kupon, durasi obligasi semakin pendek. Semakin kecil kupon, semakin tinggi volatilitas dan durasi.
Risiko obligasi
Obligasi bukan bebas risiko. Ada beberapa risiko utama yang harus dipahami:
- Risiko suku bunga
Ketika suku bunga pasar naik, imbal hasil obligasi yang sudah diterbitkan menjadi tidak menarik dibanding obligasi baru — akibatnya harga pasar turun. Sebaliknya, saat suku bunga turun, harga obligasi existing cenderung naik. Risiko ini paling besar pada obligasi jangka panjang berkupon tetap.
- Risiko gagal bayar (default)
Penerbit tidak mampu membayar kupon dan/atau pokok tepat waktu. Mitigasi: pilih obligasi dengan rating tinggi (Investment Grade), perhatikan fundamental penerbit, dan diversifikasi.
- Risiko likuiditas
Sulit menjual obligasi sebelum jatuh tempo di harga yang wajar. Obligasi korporasi kecil atau yang seri-nya tidak likuid bisa kena spread beli-jual yang lebar.
- Risiko jangka waktu jatuh tempo
Semakin panjang jangka waktu, semakin besar risiko dan ketidakpastian. Banyak hal bisa berubah dalam 20 tahun — inflasi, politik, regulasi, kondisi perusahaan.
- Risiko mata uang
Untuk obligasi dalam valuta asing (misalnya Global Bond dalam USD), fluktuasi kurs bisa menghasilkan keuntungan atau kerugian di luar yield itu sendiri.
- Risiko pelunasan dipercepat (call risk)
Pada callable bonds, emiten bisa menarik obligasi sebelum jatuh tempo — biasanya saat suku bunga turun. Akibatnya investor kehilangan kupon tinggi yang sebelumnya dinikmati.
- Risiko politik
Perubahan rezim, kebijakan, atau stabilitas negara penerbit dapat memengaruhi kredibilitas pembayaran. Di obligasi negara berkembang, risiko politik sering menjadi faktor dominan.
Peringkat obligasi
Secara umum, rating obligasi dibagi ke dalam dua kelompok utama:
Obligasi dengan kualitas kredit baik sampai sangat baik. Risiko gagal bayar rendah. Umumnya mencakup Prime, High Grade, Upper Medium Grade, dan Lower Medium Grade.
Obligasi dengan kualitas kredit spekulatif sampai ekstrem spekulatif, atau bahkan sudah in default. Risiko tinggi, kompensasi berupa yield yang tinggi pula.
Semakin rendah rating, risiko gagal bayar (default) tinggi — sehingga agar diminati, obligasi tersebut memberikan imbal hasil (yield) lebih tinggi. Semakin tinggi rating, risiko gagal bayar rendah — sehingga imbal hasilnya lebih rendah.
Untuk berinvestasi, disarankan membeli obligasi dengan rating Prime / High Grade atau Investment Grade. High Yield bonds hanya cocok untuk investor berpengalaman yang memahami risikonya.
Skala rating internasional (Moody's, S&P, Fitch)
Tiga lembaga pemeringkat global utama adalah Moody's, Standard & Poor's (S&P), dan Fitch. Skala ratingnya serupa (dengan sedikit perbedaan simbol):
| Deskripsi | Moody's | S&P / Fitch | Kelompok |
|---|---|---|---|
| Prime | Aaa | AAA | Investment Grade |
| High Grade | Aa1 / Aa2 / Aa3 | AA+ / AA / AA− | |
| Upper Medium Grade | A1 / A2 / A3 | A+ / A / A− | |
| Lower Medium Grade | Baa1 / Baa2 / Baa3 | BBB+ / BBB / BBB− | |
| Non-Investment Grade Speculative | Ba1 / Ba2 / Ba3 | BB+ / BB / BB− | Non-Investment Grade (Junk / High-Yield) |
| Highly Speculative | B1 / B2 / B3 | B+ / B / B− | |
| Substantial Risks | Caa1 / Caa2 / Caa3 | CCC+ / CCC / CCC− | |
| Extremely Speculative / Default Imminent | Ca / C | CC / C | |
| In Default | — | D / RD / SD |
Skala rating PEFINDO (Indonesia)
Untuk obligasi di pasar Indonesia, PEFINDO adalah lembaga pemeringkat domestik utama. Skala jangka panjangnya — baik untuk obligasi konvensional maupun sukuk — sejajar dengan skala internasional dengan prefiks id:
| Debt Rating | Sukuk Rating | Deskripsi |
|---|---|---|
| idAAA | idAAA(sy) | Superior |
| idAA+ / idAA / idAA− | idAA(sy) | Very Strong |
| idA+ / idA / idA− | idA(sy) | Strong |
| idBBB+ / idBBB / idBBB− | idBBB(sy) | Adequate |
| idBB+ / idBB / idBB− | idBB(sy) | Somewhat Weak |
| idB+ / idB / idB− | idB(sy) | Weak |
| idCCC | idCCC(sy) | Vulnerable |
| idD | idD(sy) | Default |
| idSD | idSD(sy) | Selective Default |
Untuk jangka pendek, PEFINDO memakai skala idA1+ (Superior), idA1 (Strong), idA2 (Above Average), idA3 (Adequate), idB (Significant Vulnerability), idC (Doubtful), dan idD (Default).
Ilustrasi obligasi: bacaan prospektus
Saat sebuah obligasi dilepas di pasar perdana, informasi kunci yang Anda temukan di prospektus/fact sheet kira-kira seperti ini (contoh Obligasi PP Properti tahun 2016):
| Penerbit obligasi | PT PP Properti Tbk. |
| Jumlah pokok | Seri A: Rp 200.000.000.000, jangka waktu 36 bulan. Seri B: Rp 400.000.000.000, jangka waktu 60 bulan. |
| Harga penawaran | 100% dari nilai pokok obligasi |
| Tingkat bunga | Seri A: tetap 9,15%/tahun. Seri B: tetap 9,90%/tahun. |
| Pembayaran bunga | Tiap 3 bulan |
| Rating | idA oleh Pefindo |
| Pihak pengawas | Wali Amanat — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. — bertugas melakukan pengawasan atas kepentingan investor obligasi. |
Saat membaca prospektus obligasi, perhatikan: siapa penerbitnya, ratingnya berapa, kupon & periode pembayarannya, jaminan/kolateralnya apa, siapa wali amanatnya, dan syarat-syarat khusus (call, put, konversi).
Obligasi pemerintah Indonesia
Pemerintah Indonesia adalah penerbit obligasi terbesar di pasar domestik. Dua payung utamanya:
Surat pengakuan utang dalam mata uang Rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya. Ketentuan mengenai SUN diatur dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara. SUN mencakup Obligasi Negara (jangka panjang) dan SPN (Surat Perbendaharaan Negara, jangka pendek).
Surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap Aset SBSN, baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing. Ketentuan mengenai SBSN diatur dalam Undang-Undang No. 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.
SBSN Ijarah Asset to be Leased adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti kepemilikan atas bagian dari aset SBSN yang menjadi obyek ijarah, baik yang sudah ada maupun akan ada (Fatwa DSN-MUI Nomor 76/2010).
Sukuk Ritel (SR): jembatan syariah untuk ritel
Sukuk Ritel adalah surat berharga syariah yang berisi bukti kepemilikan investor atas Aset Surat Berharga Syariah Negara (SBSN / underlying asset) yang disewakan.
Sukuk ritel diperuntukkan bagi semua individu Warga Negara Indonesia dan dijamin aman karena dikeluarkan oleh pemerintah dan tentu saja dijamin oleh pemerintah. Karakteristik:
- Pemesanan minimal: Rp 5 juta.
- Pemesanan maksimal: Rp 5 miliar.
- Jangka waktu investasi: umumnya 3 tahun (beberapa seri ada variasi).
- Bagi hasil dibayarkan setiap bulan (fixed atau floating tergantung seri).
Akad Sukuk Ritel
Akad syariah yang digunakan adalah akad Ijarah Asset to be Leased — yaitu akad ijarah yang obyek ijarahnya sudah ditentukan spesifikasinya, dan sebagian obyek ijarah sudah ada pada saat akad dilakukan, tetapi penyerahan keseluruhan obyek ijarah dilakukan pada masa yang akan datang sesuai kesepakatan.
Bagi hasil yang diterima investor berasal dari pembayaran sewa (ujrah) dalam jumlah tetap yang dibayar secara berkala. Sukuk Ritel dijual melalui agen penjual, seperti bank dan perusahaan sekuritas.
Efek Beragun Aset (EBA)
Aset yang mendasari bisa berupa tagihan pembiayaan perumahan (KPR), tagihan kartu kredit, tagihan sewa, atau piutang lain yang memiliki arus kas terjadwal. Di Indonesia, contoh paling dikenal adalah EBA-SP (Efek Beragun Aset Surat Partisipasi) yang diterbitkan PT SMF dengan underlying KPR Bank Tabungan Negara. Bagi investor ritel, EBA biasanya bisa dibeli lewat reksa dana atau langsung di pasar sekunder dengan nominal tertentu.
Manfaat berinvestasi di obligasi & efek bersifat utang
- Kupon / fee / nisbah secara periodik
Mendapatkan kupon/fee/nisbah secara periodik dari efek bersifat utang yang dibeli. Pada umumnya tingkat kupon/fee/nisbah berada di atas bunga Bank Indonesia (BI rate).
- Capital gain dari penjualan di pasar sekunder
Bila suku bunga turun setelah Anda beli, harga obligasi Anda akan naik — Anda bisa menjualnya di harga premium sebelum jatuh tempo, memperoleh capital gain selain kupon.
- Risiko relatif lebih rendah dari saham
Pergerakan harga saham lebih berfluktuasi dibandingkan harga efek bersifat utang. Untuk efek bersifat utang yang diterbitkan oleh pemerintah, bahkan dapat dikatakan sebagai instrumen yang "bebas risiko" (risk-free baseline).
- Banyak pilihan seri
Banyak pilihan seri efek bersifat utang yang dapat dipilih investor di pasar sekunder — dari tenor 1 tahun hingga 30 tahun, dari kupon tetap hingga mengambang, dari konvensional hingga syariah.
Perdagangan efek bersifat utang
Berbeda dengan saham yang diperdagangkan di Pasar Reguler BEI lewat JATS, instrumen efek bersifat utang diperdagangkan melalui mekanisme Over The Counter (OTC) — antar dealer, tidak selalu lewat bursa sentral.
Bursa menyediakan sistem khusus untuk memfasilitasi perdagangan efek bersifat utang, yang dikenal dengan nama FITS (Fixed Income Trading System). Di samping itu, terdapat sistem pelaporan untuk transaksi efek bersifat utang: CTP-PLTE (Centralized Trading Platform — Pelaporan Transaksi Efek).
Dengan diperdagangkannya efek bersifat utang, maka akan terjadi pembentukan harga — yang dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran. Dasar-dasar yang dapat mempengaruhi harga wajar efek bersifat utang yang diperdagangkan di bursa adalah: Suku Bunga, Faktor Risiko, dan Jatuh Tempo.
Faktor #1 — Suku Bunga
Besarnya suku bunga menjadi acuan bagi pembeli efek bersifat utang sebagai perbandingan dasar tingkat pengembalian yang diharapkan. Tingkat suku bunga pasar dalam hal ini dapat berupa BI Rate.
Ketika suku bunga pasar berubah, maka akan memengaruhi harga efek bersifat utang. Pada saat suku bunga pasar naik, sementara besarnya tingkat pengembalian (kupon) atas efek bersifat utang adalah tetap, maka return riil dari investor menjadi relatif lebih kecil. Hal ini menyebabkan terjadi aksi jual efek bersifat utang, sehingga harga efek tersebut turun. Begitu pula sebaliknya — suku bunga turun, harga obligasi existing naik.
Faktor #2 — Faktor Risiko
Risiko kredit menggambarkan kemampuan penerbit efek bersifat utang dalam melakukan pembayaran bunga atau pelunasan pokok secara tepat waktu sesuai jatuh temponya. Efek bersifat utang diperingkat secara berkala oleh Lembaga Pemeringkatan Efek.
Ketika peringkat efek bersifat utang mengalami penurunan, itu mengindikasikan tingkat risiko penerbit dalam memenuhi kewajibannya menjadi lebih tinggi — yang pada akhirnya dapat berpotensi gagal bayar. Kondisi tersebut menyebabkan harga efek bersifat utang mengalami penurunan, karena permintaan atas efek tersebut ikut turun — investor menganggapnya tidak lagi menarik.
Faktor #3 — Jatuh Tempo
Efek bersifat utang yang tercatat di bursa memiliki periode jatuh tempo yang berbeda-beda. Pada saat jatuh tempo, penerbit memiliki kewajiban mengembalikan seluruh pokok efek bersifat utang kepada investor.
Pada umumnya, harga efek bersifat utang berbanding terbalik dengan jangka waktu obligasi. Semakin pendek jangka waktu efek bersifat utang, maka semakin kecil tingkat ketidakpastian (risiko). Di samping itu, semakin efek bersifat utang tersebut mendekati tanggal jatuh temponya, maka harga efek tersebut akan semakin mendekati nilai nominalnya (par) — fenomena yang disebut pull to par.
Durasi & konveksitas — sensitivitas harga ke suku bunga
Konsep yang paling sering salah dipahami oleh investor obligasi pemula: durasi. Angka ini bukan sekadar "jatuh tempo" — ia adalah ukuran kuantitatif seberapa sensitif harga obligasi terhadap perubahan suku bunga. Semakin besar durasi, semakin besar volatilitas harga saat suku bunga bergerak.
Definisi sederhana: durasi = perkiraan persentase perubahan harga jika yield berubah 1% (100 bps). Contoh: obligasi dengan durasi modifikasi 6 tahun, jika yield naik 1%, harga akan turun kira-kira 6%. Jika yield turun 1%, harga naik 6%. Ini linier hanya untuk perubahan kecil — untuk perubahan besar, ada efek konveksitas yang membuat harga tidak linier (efek "kurva").
| Tenor | Durasi modifikasi kasar | Jika yield naik 1% | Jika yield turun 1% |
|---|---|---|---|
| 1 tahun (kupon 6%) | ≈ 0,95 | Harga ↓ ~0,95% | Harga ↑ ~0,95% |
| 5 tahun (kupon 6%) | ≈ 4,3 | Harga ↓ ~4,3% | Harga ↑ ~4,4% |
| 10 tahun (kupon 6%) | ≈ 7,5 | Harga ↓ ~7,3% | Harga ↑ ~7,7% |
| 20 tahun (kupon 6%) | ≈ 12,0 | Harga ↓ ~11,5% | Harga ↑ ~12,8% |
| 30 tahun (kupon 6%) | ≈ 14,5 | Harga ↓ ~13,7% | Harga ↑ ~15,9% |
Tabel di atas menjelaskan mengapa kenaikan suku bunga di 2022–2023 memukul keras pemegang SUN tenor panjang — banyak yang tidak menyangka "obligasi pemerintah" bisa drop 15–20% dalam setahun. Pelajaran praktis: semakin panjang tenor, semakin besar volatilitas harga, tapi juga semakin besar potensi capital gain jika suku bunga turun. Pilih durasi sesuai horizon & toleransi Anda.
Kurva yield — cermin ekspektasi pasar
Kurva yield (yield curve) adalah grafik yang memplot yield obligasi sejenis (biasanya SUN) terhadap jatuh temponya — 1, 2, 5, 10, 20, 30 tahun. Bentuk kurva ini mengomunikasikan apa yang diperkirakan pasar tentang suku bunga dan pertumbuhan ekonomi di masa depan.
Yield jangka pendek < jangka panjang. Kondisi "sehat" — investor minta premium lebih tinggi untuk memegang obligasi lebih lama. Konsisten dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil.
Yield pendek ≈ panjang. Ketidakpastian tinggi tentang arah ekonomi — bisa menjadi transisi sebelum inverted.
Yield pendek > panjang. Secara historis, kurva terbalik 6–18 bulan sebelum resesi (di AS). Pasar memprediksi bank sentral akan menurunkan suku bunga untuk melawan perlambatan.
Selisih yield pendek-panjang lebar. Terjadi di awal ekspansi ekonomi — pasar memperkirakan inflasi & kenaikan suku bunga ke depan.
Untuk investor obligasi ritel, kurva yield berguna untuk memilih jatuh tempo: saat kurva sangat curam, memilih tenor 5–10 tahun memberi yield pickup signifikan dibanding tenor pendek — tapi juga durasi lebih besar (risiko harga). Saat kurva flat atau inverted, tenor pendek memberi yield hampir sama tanpa risiko durasi — pilihan yang lebih konservatif.
Strategi membangun portofolio obligasi
Obligasi sering dilihat sebagai "satu hal"—padahal strategi alokasi antar-obligasi bisa membedakan hasil 1–2% per tahun dalam jangka panjang. Tiga strategi klasik yang bisa diadaptasi investor ritel:
- Strategi Laddering (Tangga)
Beli obligasi dengan jatuh tempo berbeda (misalnya 1, 3, 5, 7, 10 tahun) dalam porsi relatif sama. Setiap tahun satu "anak tangga" jatuh tempo — pokok bisa direinvestasi ke anak tangga terpanjang. Manfaat: likuiditas rutin, rata-rata suku bunga merata, terlindung dari perubahan suku bunga ekstrem.
- Strategi Barbell
Bagi alokasi ke dua kutub: jatuh tempo sangat pendek (1–2 tahun) dan sangat panjang (10–15 tahun), minim di tengah. Manfaat: kombinasi likuiditas tinggi (dari pendek) dan yield tinggi (dari panjang). Cocok saat kurva yield curam.
- Strategi Bullet
Fokus di satu jatuh tempo yang cocok dengan tujuan spesifik — misalnya semua SBN yang jatuh tempo tahun 2035 untuk dana pensiun 10 tahun lagi. Sederhana, predictable, cocok untuk tujuan tertanggal.
Rekomendasi praktis untuk ritel Indonesia: mulai dengan kombinasi ORI / SBR (tenor 2–4 tahun, tradable vs non-tradable) untuk porsi liquid, lalu tambahkan SUN seri FR (jatuh tempo lebih panjang) jika horizon Anda 5+ tahun. Hindari corporate bond single-A ke bawah kecuali Anda siap memonitor dengan serius — yield tambahan 1–2% tidak sebanding dengan risiko default.
Kenapa investor perlu campuran saham & obligasi
Salah satu temuan paling konsisten dalam literatur keuangan modern: portofolio yang mencampur saham dan obligasi biasanya mengalahkan portofolio yang hanya berisi salah satu, bukan karena imbal hasilnya lebih tinggi, tapi karena volatilitasnya jauh lebih rendah. Prinsip ini disebut diversification benefit dan berasal dari korelasi yang seringkali rendah atau negatif antara kedua aset.
Saat pasar saham jatuh 30–50% (seperti 1998, 2008, 2020), obligasi pemerintah biasanya naik karena investor cari safe haven — ini disebut flight to quality. Kenaikan obligasi meredam penurunan saham, sehingga portofolio 60/40 (60% saham, 40% obligasi) turun jauh lebih sedikit daripada portofolio all-equity.
| Alokasi | Return jangka panjang p.a. | Volatilitas (std dev) | Drawdown max | Cocok untuk |
|---|---|---|---|---|
| 100% Saham | 12–14% | ~25% | −50% hingga −65% | Horizon 20+ tahun, toleransi risiko tinggi |
| 80/20 (Saham/Obligasi) | 11–12% | ~20% | −40% hingga −50% | Horizon 15+ tahun, agresif moderat |
| 60/40 | 9–10% | ~14% | −25% hingga −35% | Horizon 10+ tahun, seimbang |
| 40/60 | 7–8% | ~10% | −15% hingga −25% | Pensiun dini, konservatif |
| 20/80 | 5–7% | ~7% | −8% hingga −15% | Pensiun aktif, preservasi modal |
Aturan lama "umur = persen obligasi" (orang 40 tahun = 40% obligasi) sekarang dianggap terlalu konservatif mengingat harapan hidup lebih panjang. Aturan lebih modern: "120 − umur = persen saham" (orang 40 tahun = 80% saham, 20% obligasi). Tapi aturan ini hanya titik mula — keputusan akhir harus mempertimbangkan tujuan spesifik, kapasitas finansial, dan toleransi emosional Anda.
Obligasi pemerintah vs deposito bank
Untuk investor Indonesia yang sedang mempertimbangkan "menyimpan uang di mana", perbandingan yang paling sering muncul adalah antara obligasi pemerintah (SUN/SBN ritel seperti ORI, SBR, ST, SR) dengan deposito bank. Kedua instrumen ini low-risk, tapi punya karakteristik berbeda.
| Aspek | Obligasi Pemerintah Ritel (ORI/SBR) | Deposito Bank |
|---|---|---|
| Penerbit | Kementerian Keuangan RI (sovereign) | Bank komersial |
| Penjaminan | Dijamin negara — risiko kredit hampir nol | Dijamin LPS sampai Rp 2 miliar per nasabah per bank |
| Kupon / bunga | 5,5%–7,5% p.a. (tergantung seri) | 3,5%–5,5% p.a. (tergantung bank) |
| Pajak | PPh final 10% (dari Maret 2021) | PPh final 20% |
| Net yield (misal 6%) | ≈ 5,4% p.a. | ≈ 4,0% (dari bunga 5% nominal) |
| Minimum investasi | Rp 1 juta | Rp 5–10 juta (variasi per bank) |
| Likuiditas | ORI & SR bisa dijual di pasar sekunder; SBR & ST hanya early redemption terbatas | Umumnya kena penalti jika dicairkan sebelum jatuh tempo |
| Jangka waktu | 2–4 tahun (ritel); SUN FR hingga 30 tahun | 1–24 bulan, auto-roll umum |
Kesimpulan praktis: untuk dana yang Anda tidak butuhkan 2–4 tahun ke depan, obligasi pemerintah ritel hampir selalu memberi net yield lebih tinggi dari deposito, dengan kualitas kredit yang bisa dibilang sama (keduanya "risiko negara" — LPS sendiri didanai negara). Untuk dana darurat yang butuh likuiditas harian, deposito atau money market / RDPU tetap lebih cocok.
Cara membeli obligasi ritel di Indonesia
Proses membeli SBN ritel jauh lebih sederhana dibandingkan proses saham. Enam langkah standar:
- Buka rekening di mitra distribusi
Ada 20+ mitra distribusi yang ditunjuk Kementerian Keuangan — mulai dari bank (BCA, BRI, Mandiri, BNI, CIMB) sampai fintech (Bibit, Bareksa, IPOT, TanamDuit). Kebanyakan proses online 10–15 menit dengan e-KTP dan foto selfie.
- Monitor jadwal penerbitan
Kemenkeu menerbitkan jadwal tahunan. Biasanya 8–10 seri per tahun: ORI (2× setahun), SBR (2×), ST (2×), SR (1–2×), ditambah SBN non-ritel. Cek kemenkeu.go.id/sbn atau web mitra distribusi.
- Baca memorandum informasi
Setiap seri punya dokumen ringkas: kupon, tenor, tanggal pencairan, opsi early redemption. Bandingkan dengan seri lain yang masih beredar di pasar sekunder — kadang seri lama lebih menarik.
- Pesan saat masa penawaran
Masa penawaran biasanya 2–3 minggu. Pesan melalui platform mitra distribusi dengan jumlah kelipatan Rp 1 juta (SBR, ST, ORI, SR) — minimum Rp 1 juta, maksimum Rp 5 miliar per seri.
- Transfer dana
Setelah pemesanan dikonfirmasi, transfer dana ke rekening penampungan. Setelah settlement, obligasi tercatat di rekening Anda.
- Terima kupon rutin
Kupon masuk otomatis ke RDN / rekening bank Anda setiap tanggal pembayaran (umumnya tanggal 10 setiap bulan untuk SBR/ST/ORI baru, atau setiap 6 bulan untuk SUN FR). Di jatuh tempo, pokok dikembalikan otomatis.
Perpajakan obligasi di Indonesia
Struktur pajak obligasi di Indonesia berubah signifikan pada tahun 2021 — sebelumnya PPh final atas bunga obligasi 15%, kini 10% untuk semua jenis obligasi yang diperdagangkan di bursa (UU HPP 2021). Pemahaman perpajakan ini penting karena langsung memengaruhi net yield yang Anda terima.
| Jenis penghasilan | Tarif PPh | Sifat | Ket. |
|---|---|---|---|
| Kupon / bunga obligasi (tradable) | 10% | Final | Dipotong oleh kustodian saat pembayaran |
| Diskonto obligasi (selisih beli di bawah par vs jatuh tempo) | 10% | Final | Dipotong saat jual atau jatuh tempo |
| Capital gain obligasi di pasar sekunder | 10% | Final | Selisih harga jual − harga beli |
| Kupon obligasi non-tradable (SBR, ST) | 10% | Final | Sama dengan tradable |
| Capital loss | — | — | Tidak dapat dikompensasi ke capital gain obligasi lain |
Sebagai perbandingan konteks: bunga deposito kena PPh final 20%, bunga tabungan < Rp 7,5 juta per bulan bebas pajak, dan capital gain saham di bursa dikenakan PPh final 0,1% dari nilai transaksi jual (bukan dari keuntungan). Struktur pajak yang lebih rendah (10%) membuat obligasi relatif menguntungkan setelah pajak, terutama dibandingkan deposito.
Contoh perhitungan keuntungan obligasi
Mari kita susun satu ilustrasi lengkap untuk melihat bagaimana komponen imbal hasil saling berinteraksi. Skenario: Anda membeli ORI024 dengan kupon 6,10% tetap, tenor 3 tahun, pembayaran kupon bulanan, di harga par (Rp 10.000.000 per unit). Anda membeli 10 unit = Rp 100.000.000.
Kupon bulanan = 6,10% / 12 × Rp 100 juta = Rp 508.333 per bulan (bruto). PPh 10% = Rp 50.833 dipotong → net = Rp 457.500 per bulan. Total kupon 36 bulan = Rp 16.470.000 net. Di jatuh tempo, pokok Rp 100 juta dikembalikan utuh. Total return 3 tahun = Rp 16,47 juta atau 5,49% p.a. net.
Setelah 24 bulan, suku bunga BI turun sehingga yield pasar untuk tenor 1 tahun tersisa = 5,5%. Harga obligasi di pasar naik ke 101,2% (above par). Anda jual 10 unit × Rp 10.120.000 = Rp 101.200.000. Capital gain = Rp 1.200.000 − PPh 10% = Rp 1.080.000 net. Total kupon 24 bulan net = Rp 10.980.000. Total return 2 tahun = Rp 12,06 juta atau ~6,0% p.a. net.
Suku bunga BI naik 200 bps dalam 6 bulan pertama. Harga obligasi 1 turun ke 97,5% (discount). Jika Anda panic sell saat ini: Rp 9.750.000 × 10 = Rp 97.500.000. Capital loss Rp 2.500.000 (tidak bisa offset pajak). Kupon 6 bulan net = Rp 2.745.000. Net loss = Rp −2,5 juta + Rp 2,745 juta = Rp +245 ribu saja (padahal di atas kertas "rugi 2,5 juta"). Pelajaran: jangan panic sell — volatilitas harga obligasi jangka pendek biasanya pulih jika Anda sabar hingga jatuh tempo.
Hikmah dari tiga skenario di atas: obligasi bukan instrumen "bebas risiko"; harganya berfluktuasi sesuai suku bunga pasar. Tapi jika Anda memegang sampai jatuh tempo dan penerbit tidak default, Anda dijamin mendapatkan pokok + kupon — yang merupakan kepastian yang sangat jarang ditemukan di instrumen investasi lain.
Memilih corporate bond yang aman
Obligasi korporasi menawarkan yield 1–3% lebih tinggi dari SUN dengan tenor setara — tapi juga risiko kredit nyata. Bagi ritel yang ingin eksposur tanpa riset mendalam, pendekatan terbaik: hanya beli rating idAA atau lebih tinggi, tenor maksimal 5 tahun, dan diversifikasi minimal 5 penerbit berbeda.
Beberapa "lampu merah" yang perlu diperhatikan sebelum membeli corporate bond:
- Rating turun 2+ notch dalam 2 tahun terakhir
PEFINDO/Fitch/Moody's biasanya menurunkan rating secara bertahap. Pola downgrade konsisten = sinyal bahwa analis kredit melihat deteriorasi yang belum sepenuhnya tercermin di harga obligasi.
- DER penerbit > 3× dan tumbuh
Utang yang terus membengkak relatif terhadap ekuitas = meningkatnya risiko solvabilitas. Apalagi jika bisnis sedang stagnan.
- Interest Coverage Ratio (EBITDA/bunga) < 2×
Jika laba operasi tidak cukup 2× lipat beban bunga, penerbit sudah di zona risiko gagal bayar saat laba sedikit turun.
- Yield spread terlalu lebar
Jika sebuah corporate bond memberi yield 4% di atas SUN tenor sama — pasar sedang memberi "warning": ada persepsi risiko yang tinggi. Jangan tergoda hanya oleh angka yield.
- Sektor dalam kondisi stress struktural
Property developer dengan landbank besar di kota tier-3, perusahaan yang bisnisnya sedang terdisrupsi (retail fisik, media cetak), perusahaan yang sangat tergantung komoditas dengan siklus panjang — semuanya butuh ekstra hati-hati.
Pelajaran dari krisis obligasi Indonesia
Pasar obligasi Indonesia sudah beberapa kali diuji krisis besar — dan setiap kali memberikan pelajaran penting untuk investor. Mari tinjau singkat tiga kasus kunci:
Krisis 1998 — gagal bayar korporasi massal
Saat Rupiah melemah dari Rp 2.500 ke Rp 16.000 per USD dalam 9 bulan, banyak perusahaan dengan pinjaman dolar tapi pendapatan rupiah tiba-tiba menjadi teknis bangkrut. Ratusan obligasi korporasi default. Pelajaran: risiko mata uang adalah pembunuh diam — cek struktur pinjaman penerbit (USD vs IDR) dan pendapatannya (ekspor vs domestik) sebelum berinvestasi di corporate bond.
2013 — "Taper Tantrum" dan keluarnya modal asing
Ketika The Fed mengumumkan rencana pengurangan QE, investor asing menarik dana dari emerging markets termasuk Indonesia. Yield SUN 10-tahun melonjak dari 5,5% ke 9% dalam 4 bulan — harga obligasi turun 15–20%. Pelajaran: pasar obligasi Indonesia sangat bergantung arus modal asing. Meski default hampir nol untuk SUN, volatilitas harga bisa sangat tinggi — jangan kaget jika harga turun di saat gejolak global.
2020 — pandemi dan refinancing corporate
Saat Covid mengganggu arus kas banyak perusahaan, beberapa corporate bond high-yield Indonesia mengalami kesulitan refinancing di harga wajar. Beberapa emiten menawarkan exchange offer dengan tenor lebih panjang dan kupon lebih rendah — pilihan terbaik bagi pemegang, tapi bukan ideal. Pelajaran: hindari konsentrasi berlebihan pada satu penerbit. Even rating A bisa kena stress di masa krisis.
FAQ obligasi
Saat suku bunga di puncak siklus (dan diperkirakan akan turun). Saat suku bunga turun, harga obligasi naik → capital gain. Sebaliknya, di awal siklus kenaikan suku bunga, lebih baik obligasi tenor pendek atau floating rate.
Bisa. SBN ritel (ORI, SBR, ST, SR) minimum Rp 1 juta. Dengan Rp 5 juta Anda bisa pegang 5 unit untuk 1 seri, atau diversifikasi ke 2–3 seri. Reksa Dana Pendapatan Tetap juga bisa mulai dari Rp 100 ribu untuk eksposur obligasi yang sudah terdiversifikasi.
SUN Indonesia dijamin negara — default secara teknis sangat kecil kemungkinannya (rating BBB dari S&P, Baa2 dari Moody's). Yang lebih dipengaruhi geopolitik adalah: arus modal asing (yang bisa menurunkan harga sementara), dan nilai tukar Rupiah (yang memengaruhi investor USD-based). Untuk pemegang rupiah dengan horizon hold-to-maturity, dampaknya minimal.
Bandingkan setelah pajak: obligasi PPh 10%, deposito 20%. SUN 6% p.a. net = 5,4%; deposito 5,5% nominal = 4,4% net. Selisih ~1% ini adalah premium signifikan yang terakumulasi selama bertahun-tahun. Kecuali deposito memberi yield jauh lebih tinggi dari SUN, obligasi pemerintah umumnya lebih efisien secara pajak.
Secara matematis bisa. Jika Anda butuh Rp 10 juta per bulan = Rp 120 juta per tahun. Dengan yield net 5,5%, modal yang dibutuhkan = Rp 2,18 miliar. Tapi ini menghadapi risiko inflasi: dalam 20 tahun, biaya hidup naik 2–3× lipat — yield obligasi perlu mengalahkan inflasi jangka panjang. Kombinasi obligasi (stabilitas) + saham/reksa dana saham (pertumbuhan) biasanya lebih tahan lama.
Ringkasan bab
- Obligasi = surat utang jangka menengah-panjang yang dapat dipindahtangankan. Pemegangnya menerima kupon periodik dan pokok di jatuh tempo.
- Jenis menurut penerbit: Corporate, Government, Municipal. Menurut kupon: Zero Coupon, Coupon (Fixed / Floating). Menurut opsi: Convertible, Exchangeable, Callable, Putable. Menurut jaminan: Secured, Guaranteed, Mortgage, Unsecured.
- Karakteristik utama: nilai nominal (face value), kupon (persentase tahunan, umumnya dibayar 3/6 bulan), jatuh tempo, dan penerbit.
- Harga obligasi dinyatakan dalam persentase nominal — At Par (100%), At Premium (>100%), At Discount (<100%).
- Yield: Current Yield (kupon/harga) dan Yield to Maturity (total return ke jatuh tempo). Hubungan: Discount → Coupon < CY < YTM; Premium → Coupon > CY > YTM.
- Yield berbanding terbalik dengan harga dan lurus dengan risiko. Durasi mengukur sensitivitas harga terhadap suku bunga.
- Risiko utama: suku bunga, gagal bayar, likuiditas, jangka waktu, mata uang, call, politik.
- Rating obligasi: Investment Grade (Prime sampai Lower Medium) lebih aman; Non-Investment Grade (Junk) imbal hasil tinggi tapi risiko tinggi. Di Indonesia, PEFINDO memeringkat dengan prefiks id.
- Pemerintah menerbitkan SUN (konvensional, UU 24/2002) dan SBSN/Sukuk Negara (syariah, UU 19/2008). Sukuk Ritel bisa dibeli ritel mulai Rp 5 juta dengan akad Ijarah Asset to be Leased.
- EBA = efek bersifat utang dengan underlying asset (piutang / KPR / dsb).
- Perdagangan obligasi OTC via FITS & pelaporan CTP-PLTE. Harga dipengaruhi suku bunga, risiko kredit, dan jatuh tempo.
Di Bab 6 — bab terakhir — kita akan belajar kendaraan investasi yang menggabungkan saham, obligasi, dan instrumen lain dalam satu produk: reksa dana.